Menjelang masa libur akhir TA. 2026 – 2027, suasana khidmat menyelimuti Masjid Hasmi Lain di Pondok Pesantren Al Hasanah Bengkulu Tengah. Pada Selasa (16/6/2026), seluruh santri putra dan ustaz pembimbing berkumpul untuk mengikuti pembekalan intensif yang disampaikan langsung oleh Mudirul Ma’had, KH. Irham Hasymi, Lc., M.Pd.

Dalam arahannya,Ustadz Irham memberikan wejangan mendalam sebagai bekal karakter agar mahkota kesantrian tetap terjaga di luar gerbang pesantren.

“Status ‘Santri Al Hasanah tidak tanggal ketika kalian melepas sarung atau keluar dari gerbang ini. Di mana pun kalian berada, mahkota santri itu tetap melekat,” pesan beliau.

Berikut adalah 7 poin penting pesan pimpinan pondok jelang liburan dan perpulangan santri:

1. Kalian adalah bersaudara, buang dendam, dan jauhi kezaliman

Selama satu tahun, para santri hidup bersama, belajar, dan beribadah di barisan yang sama. Jika ada gesekan atau luka hati, momen perpulangan adalah waktu terbaik untuk saling memaafkan. Ustadz irham mengingatkan firman Allah Subahanhu Wa Ta’ala dalam surat Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih…”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengingatkan tentang orang yang bangkrut (muflis) di akhirat. Mereka adalah orang yang membawa pahala melimpah, namun habis karena semasa hidup suka mencaci, menuduh, atau menzalimi saudaranya. J. Maka, pahala kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.
Na’udzubillah min dzalik. Jangan sampai santri Al Hasanah pulang membawa dosa kezaliman

2. Memaafkan adalah tanda kedewasaan dan ketakwaan

Memaafkan adalah ciri utama orang yang bertakwa dan tanda kedewasaan dalam mengendalikan emosi. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134 “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Para santri dapat mengambil hikmah dari kisah teladan kelapangan hati Zainal Abidin (cucu Ali bin Abi Thalib). Beliau memaafkan budaknya yang tidak sengaja melukai wajahnya dengan kendi air. Tak hanya memaafkan, beliau bahkan memerdekakan budak tersebut dan memberinya bekal harta.

Allahu Akbar! Itulah akhlak mulia. Zainal Abidin tidak hanya memaafkan, tapi membalas keburukan dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tiru akhlak ini, wahai anak-anakku!

3. Jadilah qurratu ‘ayun bagi orang tua

Ketika kaki kalian melangkah masuk ke rumah, jadikanlah kepulangan kalian sebagai kebahagiaan terbesar bagi orang tua. Jadilah penyejuk hati (qurratu a’yun) sebagaimana doa yang sering kita panjatkan: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Ustadz Irham menambahkan tentang kisah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda yang tidak dikenal di bumi namun sangat terkenal di langit. Mengapa? Karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya yang lumpuh dan buta. Ketika sang ibu ingin naik haji, Uwais yang miskin tidak punya kendaraan. Apa yang ia lakukan? Setiap hari ia ggendong lembu naik turun bukit untuk melatih ototnya. Ketika musim haji tiba, ia menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah yang jaraknya ratusan kilometer

Di rumah nanti, Ustadz Irham berharap para santri tidak manja, bantu bersihkan rumah, cuci pakaian sendiri, dan tunjukkan perubahan akhlak serta ibadah yang semakin matang di depan orang tua. Jangan biarkan mereka menangis karena melihat akhlak kalian yang buruk, tapi buatlah mereka menangis haru karena melihat perubahan ibadah kalian.

4. Jauhi rokok dan narkoba untuk menjaga kesucian jiwa dan akal

Dunia luar penuh dengan tantangan pergaulan. KH. Irham Hasymi mengingatkan dengan tegass agar santri menjaga kesucian diri dan hafalan Al Quran dari bahaya rokok dan narkoba, sesuai QS. Al-Baqarah ayat 195: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…”

5. Manfaatkan waktu dan tebar manfaat di masyarakat
Libur pesantren bukan berarti libur dari amal saleh. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari, banyak manusia yang tertipu oleh dua nikmat, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Jangan habiskan waktu 24 jam hanya untuk game online atau begadang. Masuklah ke TPA di kampung halaman, ajarkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, dan ikut bergotong-royong membersihkan masjid. Tiru Abdullah bin Abbas RA yang rela membatalkan iktikafnya di Masjid Nabawi demi keluar membantu saudaranya yang terlilit utang.

6. Pandai memilih teman dan flter pergaulan
Saat kembali ke kampung halaman, iman santri akan diuji melalui pergaulan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

Ingatlah penyesalan mendalam Uqbah bin Abi Mu’aith yang batal masuk Islam dan mati kafir hanya karena takut diputuskan pertemanannya oleh Ubay bin Khalaf. Kisah tragis ini diabadikan dalam QS. Al-Furqan ayat 27.

7. Jaga shalat lima waktu karena shalat adalah tiang Iman
Ini adalah nasihat terpenting. Jika di pondok shalat ditegakkan karena aturan dan pengurus, maka di rumah, shalat harus berdiri atas panggilan iman yang tulus. Shalat adalah benteng pertahanan terakhir seorang muslim.

Kisah teladan dari keteguhan shalat Abbad bin Bisyr. Beliau tetap melanjutkan shalat malamnya dengan khusyuk meskipun tubuhnya dihujani tiga anak panah oleh musuh hingga berdarah-darah.

Di akhir wejangannya, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanah Bengkulu Tengah menitipkan salam hangat untuk para wali santri.

“Sampaikan salam ta’dzim dan hormat kami, seluruh jajaran asatidz, kepada ayah dan bunda kalian di rumah. Selamat berlibur, jagalah shalat jamaahmu, jaga pergaulan, jaga pandangan mata, dan jaga selalu nama baik almamater Pondok Pesantren Al-Hasanah,” tutup KH. Irham Hasymi.

Share This

Share This

Share this post with your friends!